Sabtu, 18 Mei 2013

Meski Yang mereka punya, hanya sekedar rindu

Assalamu'alailkum Wr.Wb

Diam-diam orang tua tetap tak bisa menahan perasaannya, saat anak yang dicintainya memutuskan untuk pergi. Sedapat mungkin ia berusaha tegar. Menguatkan diri. Mereka sadar bahwa kala itu pilihan mereka tak banyak, hanya kepasrahan. Kala kita memutuskan untuk pergi meninggalkannya, saat itu pulalah mereka mulai memendam rindu. Rindu yang lahir dari cinta yang tak pernah putus.
Menceritakan jasa orang tua memang tak ada habisnya dan selalu mengharukan. Kekuatan cinta mereka telah memvisualisasikan sisi malaikat pada dirinya, hingga keletihan tak lagi mereka kenal. Setiap pengorbanannya adalah riwayat cinta yang sangat patut untuk dikenang. Oleh karena itu, perjuangan orang tua selalu saja melegenda dalam riwayat sejarah.
Interaksi orang tua kepada anak adalah interaksi batin yang kompleks. Di sana ada emosi, cinta, rindu, benci juga ada. Tapi semua rasa itu dalam bingkai kearifan. Yang ujungnya terkadang sulit kita cerna. pada batas inilah, anak kerap bersebrangan pada orang tua. Konflik yang terjadi karena tak adanya sinergisitas pemahaman. Terkadang sang anak hanya melihat masa depannya dalam prespektif dirinya sendiri, tapi orang tua melihat lebih jauh lagi. Menembus kabut-kabut yang tak terjangkau oleh nalar kita.
Di sinilah loyalitas anak terhadap orang tuanya teruji, bagaimana ia mesti mematuhi setiap keputusan orang tuanya yang masih belum mampu ia pahami dengan baik. kita bisa saja membantah tapi tetap saja ada seninya. Seninya yang membuat hati mereka tidak terlukai. Sebab, mencenderai hati mereka adalah sesuatu yang sangat fatal. Dampaknya tidak hanya pada masa depan akhirat, tapi berbalas langsung oleh Allah di dunia ini.
Coba ingat Seberapa banyak keputusan orang tua yang sering tidak kita indahkan, lalu perhatikan dampaknya. apakah kita yakin cara kita menolaknya tidak menimbulkan luka apapun di hati mereka. Diamnya orang tua saat keputusannya sering tidak kita indahkan, adalah wujud lain dari kearifan mereka. Namun ketahuliah, ada pergolakan batin di sana. Di hati kecil yang mungkin saja telah kita lukai.
Dalam bait-bait doa mereka kita tak pernah tahu, apa yang dipanjatkannnya untuk kita. seperti cerita tentang seorang pemuda yang pergi meninggalkan ibunya seorang diri, ia mengira keputusannya sudah benar. Sebab, ia pergi untuk sesuatu yang mulia yaitu menunaikan ibadah haji. Namun Ia lupa pada satu hal penting dari tujuan mulianya itu, keridhaan orang tua. Hingga tanpa ia sadari ibunya sakit hati lalu berdoa agar Allah memberikan pelajaran atas perlakuan anaknya itu.
Nasib pemuda itu tragis ia tak sampai ke Baitullah. ketika melaksanakan shalat di sebuah desa ia dikira pencuri oleh masyarakat sekitar. Karena mereka melihat pencuri yang mereka kejar-kejar lari ke dalam sebuah mesjid dan di sanalah mereka mendapati pemuda itu sedang shalat. Tanpa pikir panjang warga desa itu menghakimi pemuda ini hingga kaki dan tangannya patah, bahkan matanya hampir buta.
Demikianlah, keridhaan orang tua berbanding lurus dengan keridhaan Allah. Seperti yang diungkapkan Rasulullah SAW:
“Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Tarmidzi).
Maka berupayalah sedapat mungkin untuk tidak meninggalkan luka apapun di hati mereka. Bersegeralah memohon maaf bila kita khilaf atau salah pada mereka, itu lebih baik. Karena terus mendiamkan salah kita terhadap mereka, bisa menjadi bom waktu bagi masa depan kita kelak.
“Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya maka dia kafir. (HR. Muslim)”.
Kala kita memutuskan untuk pergi meninggalkannya, saat itu pulalah mereka mulai memendam rindu. Rindu yang lahir dari cinta yang tak pernah putus. Maka, sebelum Allah memanggilnya. Ramaikanlah hatinya, sapalah jiwanya dan jagalah selalu perasaannya. Karena mungkin, saat ini yang mereka punya hanya sekedar rindu.

Wassalamu;alaikum Wr. Wb

Sumber: Anak kampung pikiran global

Tidak ada komentar:

Posting Komentar